Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
epetani
Sinartani
katam
juknis pengendalian ulat bulu
pustakadigital
jambi dlm angka
eproduk
bank ilmu padi

Forum Litbang/Katalog Online

Kalender Kegiatan 2014

Pengunjung online

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini2
mod_vvisit_counterKemarin132
mod_vvisit_counterMinggu ini258
mod_vvisit_counterBulan ini3019
mod_vvisit_counterAll161761
Teknologi Mina Padi PDF Cetak E-mail
Oleh Administrator   
Selasa, 01 Desember 2009 00:00

Salah satu optimalisasi potensi lahan sawah irigasi dan peningkatan pendapatan petani adalah dengan merekayasa lahan dengan teknologi tepat guna. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengubah strategi pertanian dari sistem monokultur ke sistem diversifikasi pertanian, misalnya menerapkan teknologi budidaya Mina Padi. Dengan adanya pemeliharaan ikan di persawahan selain dapat meningkatkan keragaan hasil pertanian dan pendapatan petani juga dapat meningkatkan kesuburan tanah dan air juga dapat mengurangi hama penyakit pada tanaman padi.

Sistem usaha tani minapadi telah dikembangkan di Indonesia sejak satu abad yang lalu (Ardiwinata, 1987). Selain menyediakan pangan sumber karbohidrat, sistem ini juga menyediakan protein sehingga cukup baik untuk meningkatkan mutu makanan penduduk di pedesaan (Syamsiah et all. 1988).Dengan teknologi yang tepat, minapadi dapat memberi pendapatan yang cukup tinggi. Keuntungan yang didapat dari usahatani minapadi berupa peningkatan produksi padi dan ikan, mengurangi penggunaan pestisida, pupuk anorganik, penyiangan dan pengolahan tanah (Suriapermana, et all., 1994)

 

1. Pemilihan Benih

 a. Benih padi

  • Varietas : Ciherang sesuai dengan kebutuhan benih (25 kg/ha)
  •  Umur bibit 15-21 hari
  •  sistem tanam jajar Legowo 2:1

 b. Benih ikan

  •  Kriteria: ikan yang memiliki pertumbuhan cepat, disukai konsumen, nilai ekonominya tinggi, tahan terhadap perubahan lingkungan dan diutamakan yang tidak berwarna cerah untuk menghindari serangan hama terutama hama burung.

  •  Jenis ikan : Nila (ukuran 5-8 cm) dan Bawal (ukuran 2 inchi).

2. Persemaian

  •  Persemaian seluas 5% luas lahan yang akan ditanami.
  • Tanah diolah sempurna, diratakan, bersih dari rumput
  •  Dibuat bedengan-bedengan selebar 2-4 m.
  •  Pemeliharaan persemaian seperti pada cara tanam padi biasa.
  •  Umur persemaian 15-21 hari.

3. Persiapan Lahan

 a. pembersihan lahan dari gulma dan sisa-sisa tanaman

 b. Pengolahan tanah

  •  Tanah diolah sempurna (2 kali bajak dan 2 kali garu), dengan kedalaman olah 15-20 cm

  •  Bersamaan dengan pengolahan tanah dilaksanakan perbaikan pintu pemasukan/ pengeluaran dan perbaikan pematang, jangan sampai bocor.

 c. Pembuatan caren

  • Caren berfungsi sebagai tempat pelindungan ikan pada saat aplikasi pupuk atau pengendalian hama penyakit.

  • Pembuatan caren palang dan melintang pada saat pengolahan tanah terakhir, lebar 1 m dengan kedalaman 30 cm.

  • Pada titik persilangan dibuat kolam pengungsian ukuran 1x1 m dengan kedalaman 30 cm.

  • Pada setiap pintu pemasukan dan pengeluaran air pada setiap petakan dipasang saringan kawat dan slat pengatur tinggi permukaan air menggunakan bambu.

4. Penanaman padi

  •  Cara tanam adalah jajar legowo 2:1. (setiap dua barisan tanam terdapat lorong selebar 40 cm, jarak antar barisan 20 cm, tetapi jarak dalam barisan lebih rapat yaitu 10 cm) Untuk mengatur jarak tanam, digunakan caplak ukuran mata 20 cm. Pada jajar legowo 2:1 dicaplak kearah memanjang saja.

  • Penanaman padi dilaksanakan pada saat bibit berumur 17 hari.

  •  Setiap rumpun terdiri dari 2-3 batang.

5. Penebaran benih ikan

  •  Waktu : tanaman padi berumur 10-15 HST (setelah penyiangan pertama dan pemupukan dasar) pada sore atau pagi hari.

  •  Jumlah benih ikan : 4300 ekor, terdiri dari benih Nila 2700 ekor dan Bawal 1600 ekor (Padat tebar ikan 5-10 ekor/m2 )

 

6. Pengaturan air

  • Pengaturan air macak-macak dilakukan pada saat tanam sampai 3-4 HST.
  • Tinggi air cukup 3-5 cm dari permukaan tanah.
  • Pengaturan air macak-macak juga dilakukan pada saat aplikasi pupuk dasar dan susulan.  Pintu pemasukan dan pengeluaran air pada saat aplikasi pupuk supaya ditutup agar pupuk tidak hanyut terbawa air.
  • Setelah 10-15 HST (sesudah penyiangan dan pemupukan susulan pertama) air dimasukkan mengikuti pertumbuhan tanaman.
  • Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan dari kawat atau anyaman bambu untuk mencegah keluarnya ikan yang dipelihara dan mencegah ikan liar masuk ke dalam petakan.
  • Pada pintu pengeluaran air perlu dipasang pelimpasan air untuk menahan air sesuai dengan kebutuhan dan membuang air yang berlebihan pada saat terjadi hujan.

7. Pemupukan 

a) Pemupukan Dasar

  •  Pupuk kandang/kotoran ayam : 1-2 t/ha sebagai pupuk dasar diberikan sesudah pengolahan tanah.

  •  Pemupukan N (Urea) dengan bagan warna daun (BWD). Takaran pupuk : berdasarkan rekomendasi pupuk setempat.

  •  Takaran pupuk P dan K : berdasarkan kadar atau status hara P dan K tanah. Untuk tanah dengan kandungan P rendah, takaran pupuk : 125 kg SP-36/ha. Untuk tanah dengan status P tinggi takaran pupuk : 50 kg/ha. Pupuk P diberikan pada saat tanam atau paling lambat pada umur 3 minggu.

  •  Pupuk K hanya diperlukan pada tanah yang mengandung hara K rendah yang diberikan sekaligus pada saat tanam bersamaan dengan pemberian pupuk Urea dan SP-36 sebagai pupuk dasar atau paling lambat pada umur 40 hari atau menjelang fase primordia.

b) Pemupukan Susulan

          Pupuk susulan berupa 50 kg/ha Urea, diberikan 2 minggu kemudian dengan cara ditebar .

8. Penyiangan gulma

    Penyiangan dilakukan pada umur 10-15 HST dan selanjutnya tergantung keadaan gulma.

9. Pemeliharaan ikan (pemberian pakan, pengelolaan air dan pengawasan hama)

  • Pemberian pakan : setelah 3 hari ikan di petakan sawah,

  •  Jenis pakan : pakan apung dengan kadar protein 28-32%,

  •  Cara pemberian pakan : ad libitum (pemberian pakan dihentikan setelah ikan berkurang nafsu makannya).

  • Periode pemberian pakan : 2 kali sehari (pagi dan sore hari)

  •  Setelah ikan berumur 2-3 minggu, pupuk kandang kembali diberikan dengan cara ditebar. Dosis 0,25 kg/m2.

  •  Pakan komersial yang digunakan sebanyak 500 kg

10.  Pengendalian hama dan penyakit

  •  Pengendalian hama penyakit dilakukan dengan sistem periodik.

  • Pestisida digunakan seminimal mungkin.

  •  Ikan yang dipelihara merupakan predator bagi serangga hama padi, sehingga serangan hama dapat terkendali dengan baik.


11. Panen

  • Saat panen yang paling tepat adalah ketika 90% gabah menguning.

  • Panen ikan dilakukan 10 hari sebelum panen padi dengan cara mengeringkan petakan sawah terlebih dahulu kemudian ikan ditangkap secara perlahan-lahan.

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com